Rabu, 26 Desember 2012

PENGARUH SUPERVISI DAN MOTIVASI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SMA NEGERI 20 SURABAYA (Tahun Ajaran 2012-2013)

PENGARUH SUPERVISI DAN MOTIVASI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SMA NEGERI 20 SURABAYA (Tahun Ajaran 2012-2013) PROPOSAL SKRIPSI Diajukan Kepada Jurusan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) untuk Memenuhi Sebagian dari Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd.I) Oleh: IPING HANAFI NIM 20093118 0021 JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (MPI) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM SURABAYA 1433 H/2012 M Daftar isi……………………………………………………………….. I A. Latar Belakang Masalah………………………………………1 1 B. Rumusan Masalah……………………………………………… 5 C. Tujuan Penelitian………………………………………………. 5 D. Manfaat Penelitian……………………………………………... 5 E. Definisi Operasional…………………………………………… 5 F. Tinjauan Pustaka………………………………………………. 10 G. Hipotesa........................... 11 H. Metode Penelitian……………………………………………..... 11 1) Jenis Penelitian…………………………………………….. 11 2) Tempat dan Waktu Penelitian……………………………..12 3) Populasi Dan Sampel………………………………………. 12 4) Jenis Skala Pengukuran..………..………………………….12 5) Instrumen Pengumpulan Data………..……………………..13 6) Penyajian Dan Analisis Data…………..………………13 I. Sistematika Pembahasan………………………………………… 15 Daftar Pustaka………………………………….………………………. 16 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepala sekolah selaku pemimpin secara lansung adalah merupakan contoh yang nyata dalam aktivitas kerja para bawahannya. Seorang kepala sekolah yang rajin, cermat, cerdik, serta peduli pada para bawahan akan sangat berbeda dengan gaya kepemimpinan yang acuh tak acuh dan kurang komunikatif apalagi arogan dengan komunitas sekolahnya. Beban seorang kepala sekolah tidaklah ringan untuk dapat mengkoordinasi sistem kerja yang mampu memuaskan berbagai pihak itu tidak gampang. Meskipun demikian seorang kepala sekolah yang baik tentunya harus memiliki skala prioritas kerja dengan tidak mengabaikan tugas pokok selaku seorang kepala sekolah. Seorang kepala sekolah harus dapat menjadi teladan atau uswah yang baik terhadap para bawahnya, karena selaku atasan harus dapat memberikan pelayanan atau pengarahan yang baik agar para guru dapat termotivasi untuk menjadi lebih baik dalam pelayanan mengajar. Sebagaimana yang ada pada diri Rasulullah beliau sebagai suri teladan yang baik sebagai uswah bagi seluruh manusia. Sebagaimana Allah swt berfirman yang berbunyi: لَقَدْ كاَنَ لَكُمْ فِي رَسُول اُاللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَة لِمَن كَا نَ يَرْجُوْ اْاُللَّهَ وَاٌليَوْ مَ اُلأَخِرَوَذَكَرِ اٌللَّهَ كَثِيْرًاً Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. Dari ayat diatas sudah jelas bahwa seorang kepala sekolah harus bisa menjadi uswah atau teladan bagi guru-guru, murid-murid dan masyarakat. Supervisi yang di lakukan oleh kepala sekolah merupakan jembatan komunikasi antara guru dan pimpinannya. Oleh karena itu, sudah seharusnya frekuensi pelaksanaan supervisi ini untuk selalu ditingkatkan atau bahkan dimaksimalkan. Peraturan menteri pendidikan Nasional (permendiknas) nomor 13 tahun 2007 tentang standar seorang kepala sekolah/madrasah menjelaskan bahwa kepala sekolah harus memiliki dimensi kompetensi kepribadian manajeral, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Selama ini dimensi kompetensi supervisi belum dilaksanakan secara optimal oleh para kepala sekolah di berbagai jenjang. Seorang kepala sekolah, mayoritas baru berkutat pada seputar pemenuhan kebutuhan sarana pembelajaran dan bagaimana sekolah dapat meraih nilai ujian nasional yang maksimal. Aktivitas guru yang belum dapat perhatian dan sentuhan kasih sayang secara memadai. Yang lebih ironis lagi ada seorang kepala sekolah yang mencurigai aktivitas guru. Jalinan komunikasi antara guru dan kepala sekolah memang harus dioptimalkan, sering keliru persepsi atau bahkan saling mencurigai karena ketidak-tahuan masing-masing pihak. Oleh karena itu sangat bijaksana bila kepala sekolah sebagai panutan warga sekolah mau memberi contoh yang baik sekaligus mau membangun komunikasi dengan warga sekolah dengan penuh kekeluargaan. Selama ini kepala sekolah, mayoritas baru sekadar mengeluhkan anak buahnya, sementara mereka dengan sesuka hati dan berdalih menjalankan tugas dinas luar tanpa sepengetahuan bawahannya. Kompetensi supervisi kepala sekolah berdasar Permendiknas nomor 13 tahun 2007 meliputi tugas merencanakan program supervisi akademik dalam rangka profesionalitas guru, melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat serta menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. Melalui langkah ini penulis meyakini komunikasi antara guru dan kepala sekolah akan tambah harmonis. Kedua belah pihak saling memahami kebutuhan pendidikan dan tentunya akan menghasilkan pemahaman yang saling menguntungkan. Hal ini sangat penting dalam rangka peningkatan produktivitas kerja sehingga sekolah dapat mencapai hasil yang optimal pula. Motivasi menurut Hasibuan (2000: 142) adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Jadi motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahannya, agar mau bekerja sama secara produktif, berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Motivasi kerja bagi guru sebagai pendidik diperlukan untuk meningkatkan kinerjanya. Motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individu. Motivasi akan berakibat pada kepuasan kerja, Kepuasan kerja berkenaan dengan kesesuaian antara harapan seseorang dengan imbalan yang disediakan. Motivasi kerja guru berdampak pada prestasi kerja, disiplin, kualitas kerjanya. Pada guru yang puas terhadap pekerjaannya maka kinerjanya akan meningkat kemungkinan akan berdampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan. Kinerja guru atau prestasi kerja (Hasibuan,2001:94) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan. Kinerja guru akan baik jika guru telah melakukan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan objektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadap tugasnya. Oleh karena itu tugas kepala sekolah selaku manager adalah melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Penilaian ini penting untuk dilakukan mengingat fungsinya sebagai alat motivasi bagi pimpinan kepada guru maupun bagi guru itu sendiri. Selain itu masih banyak guru kurang berhasil dalam mengajar dikarenakan mereka kurang termotivasi untuk mengajar sehingga berdampak terhadap menurunnya produktivitas/kinerja guru.Untuk itu diperlukan peran kepala sekolah untuk memotivasi para guru dalam meningkatkan kinerjanya. Berdasarkan pengamatan penulis yang dikaitkan dengan situasi dan kondisi faktual di lingkungan SMA Negeri 20 Surabaya, yang terlihat masih ada guru yang bekerja sampingan diluar sekolah, masih ada guru yang belum mengikuti pelatihan-pelatihan yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan guru, masih ada guru yang mengajar tidak mempunyai persiapan mengajar atau ada persiapan mengajar namun tidak lengkap. Dengan demikian fenomena yang terjadi diatas bisa disebabkan oleh banyak faktor, namun peneliti hanya melihat dari faktor supervisi dan motivasi kepala sekolah. Untuk itu perlu kiranya dirumuskan secara mendalam, usaha – usaha secara terpadu dan berkesinambungan melalui penerapan analisis supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru yang dikembangkan di lingkungan SMA Negeri 20 Surabaya. B. Rumusan Masalah 1. Adakah pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 20 Surabaya? 2. Seberapa besar pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 20 Surabaya? C. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 20 surabaya. 2. Mengetahui seberapa besar pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 20 Surabaya. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Praktis a) Untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan islam di Sekolah Tinggi Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya. b) Untuk menambah wawasan peneliti dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama ini. c) Sebagai bahan masukan bagi Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam upaya meningkatkan kinerja guru. 2. Manfaat Teoritis a) Untuk menambah pengetahuan penulis tentang lembaga pendidikan dan memperluas wawasan teruma yang berhubungan dengan pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru. b) Sebagai bahan masukan untuk referenci peneliti yang lebih lanjut/ E. Definisi Operasional Dengan harapan terbagunnya pemahaman definisi secara konprehensif terhadap makna judul, serta menghindari pemahaman multi tafsir, maka peneliti memberikan beberapa hal yang harus dipertegaskan dalam pembuatan judulpenelitian ini antara lain: 1. Supervisi Kepala Sekolah Tentang supervisi sangat banyak didefinisi yang kita temukan diberbagai buku yang kita mencoba mengkajinya. Banyak definisi ini tentu memiliki kesamaan antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga dalam definisi tersebut terdapat perbedaan antara para ahli, hal ini terjadi karena para ahli biasanya mendifinisikan supervisi menurut pandangan mereka, serta aspek-aspek fenomena dari supervisi yang paling baik bagi para ahli yang bersangkutan. Untuk memberikan pemahaman yang utuh mengenai definisi supervisi berikut ini akan kami sajikan beberapa definisi supervisi. Menurut Dadang Suhardan. supervisi adalah segala usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru dan petugas lainnya untuk memperbaiki pengajaran, seperti menstimulasi, menseleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merivisi tujuan-tujuan pendidikan, bahkan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahkan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran. Adapun kata kunci yang kita pahami dari definisi di atas yaitu adanya proses memperbaiki/evaluasi pengajaran terhadap para guru selaku tenaga pendidik untuk lebih berkualitas. Menurut Jones yang dikutip oleh Made Perdata menyatakan. Supervisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang ditujukan terutama untuk mengembangkan efektivitas kinerja profesional sekolah. Menurut Purwanto yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto menyatakan. Supervisi adalah suatu aktivitas yang sudah direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Dari uraian di atas dapat kita simpulkan, supervis kepala sekolah adalah segala tindakan dan usaha seorang kepala sekolah yang telah direncanakan dan berbentuk pengawasan terhadap komponen sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan secara efektif dan efesien. Jadi supervisi kepala sekolah merupakan upaya seorang kepala sekolah dalam pembinaan guru-guru dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dengan melalui langkah-langkah perencanaan, penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Motivasi Kepala Sekolah Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut motivasi atau motif, diantara lain kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dan dorongan (drive). Pengertian motif itu sendiri menurut F.K. Berrian dan Wendell H. (1957) adalah, kondisi seseorang yang mendorong untuk mencari suatu kepuasan atau mencapai suatu tujuan. Atau dapat dikatakan juga, motif adalah daya gerak yang mendorong seseorang berbuat sesuatu (Michael J. Jucius, 1962). Sedangkan motivasi adalah kegiatan memberi dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki (Keith Davis, 1962). Selanjutnya hersey dan Blanchard (1989:72) menyatakan bahwa motivasi adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Secara umum dapat dikatakan bahwa motivasi adalah menggerakan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau tujuan tertentu. Tanpa motivasi orang tidak dapat melakukan sesuatu. Bahkan ada sebagai pendapat mengatakan bahwa pekerjaan dapat dilakukan dengan baik oleh orang yang mempunyai motivasi tinggi. Oleh karena itu motivasi sangat penting dimiliki oleh seorang pepimpin dalam meningkatkan kerja para bawahannya. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru adalah motivasi. Oleh karena itu upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru adalah dengan meningkatkan faktor motivasi yaitu kebutuhan fisologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Disamping itu motivasi kinerja guru sebagai perangsang keinginan dan daya gerak yang menyebabkan seorang guru bersemangat dalam mengajar karena terpenuhi kebutuhannya. Guru yang bersemangat dalam mengajar terlihat dalam ketekunannya ketika melaksanakan tugas, ulet, minatnya yang tinggi dalam memecahkan masalah, penuh kreatif dan sebagainya. Hal ini berdampak pada kepuasan kerja guru yang akhirnya mampu menciptakan kinerja yang baik. 3. Kinerja Guru Istilah kinerja guru berasal dari kata job performance/actual permance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Jadi menurut bahasa kinerja bisa diartikan sebagai prestasi yang nampak sebagai bentuk keberhasil kerja pada diri seseorang. Keberhasilan kinerja juga di tentukan dengan pekerjaan serta kemampuan seseorang pada bidang tersebut. Keberhasilan kerja juga berkaitan dengan kepuasan kerja seseorang. Prestasi bukan berarti banyaknya kejuaraan yang diperoleh guru tetapi suatu keberhasilan yang salah satunya nampak dari suatu proses belajar mengajar. Untuk mencapai kinerja maksimal, guru harus berusaha mengembangkan seluruh kopentesi yang dimilikinya dan juga manfaatkan serta ciptakan situasi yang ada dilingkungan sekolah sesuai dengan aturan yang berlaku. Kemudian Anwar Prabu Mangkunegara mendefinisikan kinerja (prestasi kerja) sebagai “hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Dalam kamus bahasa indonesia “kinerja berarti suatu yang dicapai, prestasi dilihatkan, kemampuan kerja. Seseorang untuk melaksanakan tugasnya yang baik untuk menghasilkan hasil yang memuaskan, guna tercapainya tujuan sebuah organisasi atau kelompok dalam suatu unit kerja. Jadi, kinerja karyawan merupakan hasil kerja di mana para guru mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan. Dengan demikian, penulis menyimpulkan dari pengertian di atas, bahwa kinerja adalah kemampuan seseorang untuk melaksanakan tugasnya yang hasilnya sangat memuaskan, guna tercapai tujuan organisai kelompok dalam suatu unit kerja. Jadi, kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar yang memiliki kehlian mendidik anak didik dalam rangka pembinaan peserta didik untuk tercapainya tujuan pendidikan. F. Tinjauan Pustaka Peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan mutu sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan mutu sumber daya manusia, maka pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru sangat penting dalam dunia pendidikan. Kinerja guru atau prestasi kerja (performance) merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasari atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu. Maka dari itu dalam penelitian ini peneliti fokus pada bagaimana peningkatan kepuasan kinerja guru terhadap pengaruh aktivitas supervisi dan motivasi kepala sekolah di sebuah sekolah atau lembaga pendidikan. Kepala Sekolah sebagai pemegang komando di lembaga sekolah. Kepala sekolah harus menguasai dan mampu mengambil kebijaksanaan serta keputusan yang bersifat memperlancar dan meningkatkan kualitas pendidikan. Secara langsung kepala sekolah berhubungan erat terhadap kelangsungan belajar mengajar. Dalam prosesnya kepala sekolah harus dekat dengan guru-guru dan juga kepada siswa. Dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, baik negeri maupun swasta, masih banyak kepala sekolah yang belum dapat melaksanakan manajemen dengan baik dan optimal. Hubungan kepala sekolah dengan guru-guru harus baik, tanggung jawab, didasari dengan kejujuran, kesetiaan, keikhlasan dan kerjasama. Agar guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka sedikit banyaknya kepala sekolah harus mengetahui dan memberikan motivasi kepada guru. G. Hipotesa Hi berbunyi : Ada pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 20 Surabaya. Ho berbunyi : Tidak ada pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMA Negeri 20 Surabaya. H. Metode Penelitian Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. metode korelasional sebenarnya kelanjutan dari metode deskriptif. Dengan metode deskriptif, kita menghimpun data, menyusunya secara sistematif, dan cermat . Dalam metode korelasional ditambah dengan menjelaskan hubungan antara variabel dan menguji hipotesis atau melakukan prediksi. 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang meneliti hubungan sebab akibat (kausal korelation) dengan cara fild observation (penelitian atau observasi lapangan). Dalam hal ini peneliti terlebih dahulu mencari dan menentukan alat ukur yang kemudian digunakan untuk memeriksa objek penelitian. Alat ukur yang di pergunakan disini adalah dalam bentuk variabel yang kemudian dioperasionalkan kepada tujuan yang akan dicari. Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian . Ada dua variabel yang peneliti ukur dalam penelitian ini: Variabel bebas (independen) : Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah di SMA Negeri 20 Surabaya dan selanjutnya disebut variabel x. Variabel terikat (dependen) : Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah kinerja guru. 2. Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini rencana akan di laksanakan di SMA Negeri 20 Surabaya yang mana di sekolah tersebut sangat memungkinkan bagi peneliti untuk melakukan penelitian. Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan selama dua bulan pada hari-hari libur kuliah yang di dapatkan peneliti, akan tetapi bukan hari libur sekolah dan juga pada hari yang telah di tentukan oleh Dosen Pembimbing. 3. Data Dan Sumber Data Segala keterangan mengenai variable yang diteliti disebut data. Data penelitian pada dasarnya dikelompokkan menjadi data kualitatif dan kuantitatif. Jenis-jenis data penelitian ini adalah sebagai berikut. a) Data Kualitatif Data Kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam kata-kata atau kalimat-kalimat, dan tindakan-tindakan. Data kualitatif dalam penelitian ini adalah perkataan kepala sekolah berkenaan dengan kinerja guru melalui pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah di SMA Negeri 20 Surabaya. b. Data Kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk angka, jumlah dan bilangan. Dalam penelitian ini data kuantitatifnya adalah tentang jumlah tenaga kerja serta data-data yang lain yang relevan dengan penelitian. Dalam penelitian ini sumber data adalah: a) Suber Lisan Sumber lisan adalah kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber lisan adalah data yang berupa kata-kata kepala sekolah dan guru-guru senior SMA Negeri 20 Surabaya. b) Sumber Tertulis Sumber tertulis adalah tulisan-tulisan yang di ambil dari buku-buku, majalah ilmiah, arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi. Sumber tertulis dalam penelitian ini adalah data-data yang diperoleh dari dokumen sekolah tentang SMA Negeri 20 Surabaya dan perkembangannya. Informasi tertulis dari arsip tentang pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru. 4. Populasi Dan Sampel Populasi adalah kumpulan objek yang diteliti dan sampel adalah bagian yang diamati. Populasi dalam penelitian adalah guru yang ada di SMA Negeri 20 Surabaya yang berjumlah total 60 orang dan 60 orang inilah yang akan menjadi Meresponden dalam penelitian ini dan penulis tidak mengambil sampling dikarenakan populasi masih terbilang kecil, yaitu di bawah 100 orang. Oleh karenanya seluruh populasi menjadi sampel dalam penelitian ini. 5. Jenis Skala Pengukuran Maksud dari sekala pengukuran ini untuk mengklasifikasi variabel yang akan di ukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analisis data dan langkah analisis selanjutnya. Dalam penelitian ini skala yang akan diambil adalah skala interval yaitu skala yang mewujudkan jarak antara satu data dengan data yang lain dan mempunyai bobot yang sama. Ukuran yang digunakan dalam skala ini adalah ukuran ordinal. Ukuran ordinal adalah angka yang diberikan dimana angka angka tersebut mengandung pengertian tingkatan. Ukuran nominal digunakan untuk mengurutkan obyek dari yang terendah ke yang tertinggi atau sebaliknya . 6. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode angket yaitu penyelidikan mengenai suatu masalah yang menyangkut kepentingan orang banyak, dengan jalan mengedarkan formulir yang berisikan daftar pertanyaan yang diajukan secara tertulis. Pada sejumlah subjek untuk mendapatkan jawaban (tanggapan, respon) tetang persepsi mereka terhadap suatu gejala atau permasalahan. Angket akan disusun dari indikator-indikator yang telah dikaji dalam kajian pustka sehingga jawaban dari para responden akan mengarah pada suatu data, yang itu akan dilanjutkan dengan proses analisis data. Angket yang peneliti gunakan adalah angket tertutup. Angket tertutup adalah angket yang disajikan dalam bentuk yang sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberikan tanda silang (x) atau tanda checklist (√) . Angket ini ditujukan kepada guru yang ada di SMA Negeri 20 Surabaya untuk dijadikan bahan mentah yang akan diteliti nantinya. 7. Instrumen Pengumpulan Data Dalam melakukan penelitian kali ini peneliti menggunakan beberapa instrumen pendukung sebagai berikut : Metode Jenis Instrumen Angket (questionnaire) Angket/inventory Wawancara Panduan Wawancara Dokumentasi Pedoman Dokumentasi (chek list) Observasi Pengamatan 8. Teknis Analisis Data Teknis analisis data adalah proses pelacakan dan pengaturan secara sistimatik. Setelah mendapatkan data-data yang dibutuhkan dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi data tersebut akan di analisis. Data dari angket akan ditafsirkan dengan menggunakan tabulasi, dengan cara memberikan skor kepada tipa-tiap item dalam angket tersebut. Data yang diperoleh terlih dahulu diuji lineristas regresinya dengan persamaan: Keterangan: Y: Subyek variabel teriakat X: Variabel bebas a; Nilai konstanta harga Y jika X=0 b; Nilai arah sebagai penentu ramalan (prediksi) yang menunjukan nilai peningkatan (+) dan penurunan (-) variabel Y. Kemudian dianalisis dengan teori statistik Product Moment untuk mencari besar hubungan yang terjadi. Rumus Product Moment dalam penelitian ini berupa rumus untuk menganalisis data kelompok karena sampel yang digunakan adalah: Setelah nilai ‘r’ diketahui maka dapat diketahui besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap variabel Y dengan menggunakan rumus koefisien determinan sebagai berikut: Keterangan: KP= Besar koefesien penentu Yang terakhir diuji dengan rumus z untuk sampel yang di gunakan melebihi 30 atau sampel besar . Uji ini untuk menetukan signifikasi dari proses analisis data statistik yang di lakukan. Keterangan:z: Uji signifikasi sampel besar I. Sistematika Pembahasan Pembuatan sistematika ini dimaksud untuk memudahkan penyampaian informasi berdasarkan urutan dan aturan logis dari penelitian yang dilakukan serta memberikan gambaran menyeluruh mengenai isi proposal ini: Bab I Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, definisi operasional, kajian pustaka, dan sistematika pembahasan. Bab II Kajian Pustaka, yang membahas tentang : tinjauan tentang supervisi kepala sekolah, yang meliputi pengertian supervisi kepala sekolah, prinsip teknik-teknik supervisi kepala sekolah, pengaruh supervisi dan motivasi kepala sekolah terhadap kinerja guru. Bab III Metode Penelitian, yang mengurai tentang rencana penelitian, diskripsi populasi, dan sampel, teknik pengumpulan data dan teknik analisi data. Bab IV Laporan Hasil Penelitian, yang mengurai tentang latar belakang objek penelitian, penyajian data dan analis data. Bab V Penutup, yang mengurai tentang kesimpulan dan saran. Daftar Pustaka Anoraga, Pandji. 1998.Psikologi Kerja. Jakarta .Rineka Cipta Arikunto, Suharsini.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Cetakan 6 .Gelora Aksara Pratama. ——————-2008, Metode dan Teknik Supervisi,Jakarta,Dirktorat Jenderal Depdikbud ————————2007.Peraturan menteri pendidikan nasional (Permendiknas) nomor 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah/madrasah Hadi, Amirul&Haryono, Metodologi penelitian Pendidikan, cetke 3 edisirevisi Bandung; PustakaSetia, 2005 Hasibuan, Malayu SP. 2000. Organisasi dan Motivasi. Jakarta . Bumi Aksara Hasibuan, Malayu SP. 1990, Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. PT.Gunung Agung. J Moleong, Lexy.Metode penelitian Kualitatif, Bandung; Rosda Karya, 2002 Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Guru ————————1996, Pedoman Kerja Pelaksanaan Supervisi, Jakarta: M.N. Nasution, Manajemen Jasa Terpadu, Bogor; Ghalia Indonesia, 2004. Motivasi Berprestasi dan Kreativitas terhadap Prestasi kerja Guru SD Sekecamatan Gemolong Kabupaten Sragen,Tesis tidak dipublikasikan, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta Mulyasa, E. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung. Remaja Rosdakarya. Mengajar FKIP.Universitas Terbuka, Jurnal Pendidikan, Volume 8, Nomor 2, September 2007. Nazir, Moh.metode penelitian, Bogor;Ghalia Indonesia,2005 Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Nasional. ————————1982, Panduan Umum Alat Penilaian Kemampuan Guru Pirdata, Made. Supervisi Pendidikan Kontekstual, Jakarta, RinekaCipta; 2009 Purwadarminta, W. J. S.1990. Kamus Bahasa Indonesia.Jakarta. Balai Pustaka. Purwanto, M. Ngalim. 2004. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya Sugiyono, Statitiska untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta, 2005 Sinungan, Muchdarsyah, Produktivitas Apa dan Bagaimana, Jakarta; Bumi Aksara: 2008 Sugiyono. Metode Penelitian pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:Alfabeta, 2009 Sujana, Nana dan Ibrahim, penelitian pendidikan, cet Ke-4Bandung; SinarBaru Algensindo,2007 Sri Sugiyati,2005,Tesis Persepsi Guru Terhadap Iklim Organisasi Sekolah, Setiaji, Bambang,2004. Panduan Riset Dengan Pendekatan Kuantitatif, Program Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar